Penerapan
Single Visa Ala Thaksin Shinawatra di Thailand
Seiring
dengan perkembangan zaman, semakin berkembang pula tujuan dan motivasi
seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Tidak hanya sebatas hiburan
melainkan meliputi kepentingan bisnis, pendidikan, pengobatan, kunjungan maupun
kepentingan lain. Keadaan ini menjadikan negara di dunia berlomba-lomba untuk
meningkatkan serta mengembangkan kondisi pariwisata negara mereka, di mana
berbagai cara terus dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan daya tarik
dan kedatangan wisatawan asing. Begitu juga yang terjadi di kawasan ASEAN,
salah satu upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kondisi pariwisata regional
adalah dengan meningkatkan konektivitas antar negara anggota dan mempromosikan
pariwisata secara bersama. Upaya meningkatkan konektivitas kawasan tersebut
salah satunya dilakukan ASEAN dengan menerapkan kebijakan bebas visa. Kebijakan
dengan memberikan pembebasan izin visa yang diterapkan secara regional bagi
sesama negara anggota ASEAN yang hendak melakukan perjalanan di kawasan Asia
Tenggara. Kebijakan tersebut terbukti berhasil dalam meningkatkan konektivitas
kawasan, bahkan secara lebih luas meningkatkan kedatangan wisatawan. Kemudian
seiring dengan berjalannya waktu, ASEAN ingin meningkatkan kondisi tersebut
menjadi lebih luas jangkauannya kepada wisatawan non-ASEAN dengan menggunakan
single visa.
Keberhasilan
penerapan single visa yang terjadi di Uni Eropa melalui kebijakan Visa
Schengen, telah menginspirasi Thailand untuk dapat menerapkan hal yang sama di
kawasan Asia Tenggara. Melalui Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada tahun
2003 di subregional ACMECS, untuk pertama kalinya Thailand menginisiasi
kebijakan single visa tersebut. Berawal dari sana, Thailand ingin memperluas
pelaksanaan kebijakan single visa dalam lingkup regional. Sehingga Thailand
berusaha untuk mengangkat gagasan tersebut untuk masuk menjadi bagian dalam
ASEAN. Seiring dengan berjalannya waktu, single visa kemudian menjadi salah
satu fokus strategi pariwisata ASEAN yang mulai di gagas melalui ATF pada tahun
2011 di Pnom Penh, Kamboja. Rencana single visa tersebut masuk ke dalam ASEAN
Tourism Strategic Plann 2011-2015. Dalam penerapannya, mekanisme yang akan
digunakan nantinya mengikuti mekanisme dalam sistem Visa Schengen.
Inisiasi
kebijakan single visa oleh Thailand tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan
dalam hal ini terdapat kepentingan yang ingin di capai oleh Thailand dalam
penerapan kebijakan. Kepentingan tersebut terbagi menjadi dua hal yang
melingkupi ranah politik serta sosial-ekonomi.
Pertama
adalah kepentingan politik. Dalam hal ini tujuan Thailand dapat dilihat pada
lingkup domestik dan internasional. Internasional dalam konteks ini adalah
kawasan regional, di mana melalui kebijakan tersebut Thailand ingin
meningkatkan kondisi dan keberadaan kawasan. Hal ini dikarenakan Thailand
melihat adanya kemajuan besar di kawasan lain yaitu Eropa dalam bidang
pariwisata,. Melihat hal itu, Thailand ingin kemajuan yang sama turut terjadi
di kawasan ASEAN. Dengan meningkatnya kondisi kawasan, Thailand mengharapkan
kondisi tersebut dapat semakin meningkatkan hubungan antar negara di kawasan
baik secara bilateral maupun multilateral. Seiring dengan itu, berbagai
kerjasama yang terjalin di antara negara juga dapat semakin meningkat dan
meluas di berbagai bidang. Sedangkan dalam lingkup domestik, Thailand ingin
meningkatkan pengaruh negaranya terhadap negara lain terutama di dalam bidang
pariwisatal. Pada saat yang bersamaan, Thailand ingin menunjukkan potensi dan
kemampuan yang dimiliki oleh negaranya. Selain itu, apabila kebijakan single
visa nantinya diterapkan, Thailand berharap dapat menjadi pusat dari kawasan
dengan menjadi pintu gerbang utama bagi kedatangan wisatawan asing ke ASEAN.
Atau dengan kata lain, Thailand ingin menjadi negara tujuan utama para
wisatawan. Hal ini dikarenakan letak geografi Thailand yang stategis di tengah
kawasan yang memungkinkan negaranya menjadi pusat kedatangan wisatawan dan
menjadi poros pergerakan wisatawan ke berbagai negara.
Kedua
adalah kepentingan sosial-ekonomi. Pada konteksi ini tujuan Thailand adalah
untuk memberikan solusi atau jawaban atas keluhan dari wisatawan asing yang
merasa bahwa mengurus surat izin visa di kawasan ASEAN cukup rumit. Melalui
kebijakan tersebut, Thailand berusaha memberikan kemudahan bagi mereka untuk
datang dan berkunjung. Dengan kemudahan tersebut, Thailand mengharapkan bahwa
hal itu dapat semakin meningkatkan kunjungan wisatawan yang banyak khususnya di
dalam negaranya. Seiring dengan kedatangan jumlah wisatawan yang bertambah,
pada saat yang bersamaan Thailand turut mengharapkan adanya peningkatan devisa.
Artinya pemasukan terhadap negara juga dapat semakin meningkat. Sedangkan di
sisi lain, Thailand mengharapkan adanya peningkatan pembangunan yang merata di
berbagai wilayah. Hal ini didasarkan pada letak geografi negaranya yang
strategis, yang dapat menerima kedatangan wisatawan asing baik secara langsung
maupun dari berbagai negara tetangga ketika kebijakan single visa
diterapkan.
Dalam
mewujudkan kepentingan tersebut Thailand menemui adanya peluang dan tantangan.
Peluang pertama adalah keberadaan infrastruktur pariwisata Thailand yang
mendukung. Kondisi infrastruktur dalam hal ini meliputi infrastruktur
transportasi dan akomodasi. Kedua komponen yang memadai di Thailand tersebut
merupakan salah satu bentuk keunggulan yang dimiliki Thailand dalam mendukung
pelaksanaan kebijakan single visa. Dalam penerapannya, infrastruktur pariwisata
yang memadai merupakan hal penting di dalam memberikan kemudahkan akses dan
mobilitas bagi para wisatawan, serta
memberikan kenyamanan di dalam perjalanan. Peluang kedua adalah adanya dukungan
dari negara lain terhadap rencana kebijakan single visa. Dukungan tersebut
merupakan respon positif yang diberikan oleh negara lain kepada Thailand.
Melalui dukungan tersebut menunjukkan bahwa negara lain bersedia untuk
menerapkan kebijakan di dalam kawasan
ASEAN. Sehingga kemungkinan penerapan kebijakan single visa menjadi semakin
besar. Peluang ketiga adalah adanya komitmen Thailand dalam membangun akses
daratan di perbatasan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa Thailand tidak hanya
sekedar menginisiasi, melainkan turut melakukan upaya nyata di dalam mewujudkan
kebijakan single visa. Menyadari bahwa
akses daratan di perbatasan merupakan bagian yang penting di dalam
mobilitas para wisatawan untuk melakukan perjalanan ke menuju ke berbagai
negara, upaya yang dilakukan oleh Thailand semakin mendukung keberadaan negaranya dalam
mewujudkan penerapan single visa terkait fasilitasi kemudahan akses dan
mobilitas bagi para wisatawan.
Sedangkan
di dalam penerapannya, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh Thailand
antara lain :
1.
Adanya
kompetisi yang terjadi di antara negara ASEAN
Kompetisi
tersebut muncul sebagai akibat dari usaha setiap negara untuk dapat
meningkatkan kondisi pariwisata di negaranya agar menjadi destinasi utama di kawasan ASEAN.
Dalam rangka menarik perhatian banyak para wisatawan, banyak negara
berlomba-lomba untuk memajukan pariwisata di dalam negara serta memberikan
berbagai penawaran menarik untuk wisatawan.
Sehingga keadaan tersebut memunculkan adanya kompetitor baru bagi Thailand khususnya di dalam
mempromosikan pariwisata negara.
2.
Berkurangnya
length of stay dari para wisatawam yang tinggal di Thailand
Dengan
adanya single visa, destinasi atau tujuan pariwisata seseorang menjadi
bertambah banyak ke berbagai negara di seluruh kawasan. Dari sana akan semakin sedikit waktu yang
dihabiskan oleh wisatawan untuk menetap di suatu negara, karena mereka akan cenderung
lebih banyak melakukan mobilitas ke berbagai negara untuk dapat menikmati
fasilitas dari single visa yang ditawarkan. Begitu juga dengan yang terjadi
Thailand, waktu tinggal bagi para wisatawan menjadi lebih sebentar dalam
melakukan kunjungan. Tantangan
3.
Berkurangnya
devisa Thailand
Seiring
dengan semakin berkurangnya waktu tinggal seorang wisatawan di Thailand, akan semakin sedikit pula pengeluaran yang
diperlukan oleh para wisatawan selama berada mereka di sana. Sebagai akibatnya
keadaan tersebut mempengaruhi kondisi devisa Thailand yang dapat menjadi
semakin berkurang karena adanya permintaan barang dan jasa di dalam sektor
pariwisata yang semakin menurun.
4.
kondisi
keamanan Thailand yang kurang mendukung
Kurangnya kondisi keamanan negara yang baik, menjadikan
Thailand rentan terhadap berbagai ancaman kejahatan. Longgarnya kondisi
keamanan tersebut, melalui penerapan single visa dapat dimanfaatkan oleh
berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mudah masuk melalui Thailand
karena adanya akses yang lebih luas. Tanpa dapat menyeleksi berbagai ancaman
yang terjadi, kondisi keamanan menjadi sangat rentan terhadap kejahatan.
5.
Adanya
pemberlakuan bebas visa bagi negara non-Asean
Melalui
penerapan bebas visa sebenarnya telah banyak wisatawan non-ASEAN yang
dimudahkan untuk dapat masuk ke Thailand maupun negara lain di kawasan ASEAN.
Apabila jumlah negara yang mendapatkan bebas visa semakin banyak, hanya dengan
menggunakan bebas visa mereka sudah dapat melakukan perjalanan ke seluruh
kawasan ASEAN. Sehingga dalam hal ini kondisi tersebut justru menjadikan
penerapan single visa nantinya di kawasan ASEAN menjadi kurang optimal. Bahkan
jika bebas visa sudah diberlakukan secara merata oleh semua negara ASEAN dengan
jumlah daftar negara yang seimbang, single visa dapat menjadi tidak diperlukan.
Dalam
mencapai kepentingan Thailand menerapkan kebijakan single visa, bukanlah
merupakan suatu proses yang mudah. Masih terdapat banyak tantangan yang
dihadapi mulai dari kurangnya kondisi yang mendukung di dalam negara, hingga
adanya ancaman yang berasal dari luar negara seperti halnya kawasan. Selain itu
sudah adanya pemberlakuan bebas visa di negara-negara ASEAN menjadikan
pertimbangan penting bagi pelaksanaan kebijakan. Tidak menutup kemungkinan
ketika berbagai ancaman tersebut belum dapat terjawab, maka penerapan kebijakan
single visa akan menjadi lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan. Bahk
an
apabila seiring dengan perkembangan waktu jumlah negara yang mendapatkan
fasilitas bebas visa di kawasan ASEAN semakin bertambah banyak, rencana penerapan
single visa tidak akan dapat memberikan dampak yang signifikan.
Selain
itu semakin lama, kebijakan bebas visa terus berkembang dan tidak menutup
kemungkinan keadaan tersebut dapat menjadikan kebijakan single visa tidak
diperlukan kembali. Sehingga berbagai tantangan tersebut perlu diselesaikan dan
diminimalisir dampaknya, karena akan sangat disayangkan apabila nantinya
kebijakan tersebut dijalankan tidak akan dapat memberikan dampak yang maksimal
dan berjalan dengan efektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar