Rabu, 31 Agustus 2016

Penerapan Single Visa Ala Thaksin Shinawatra di Thailand

Penerapan Single Visa Ala Thaksin Shinawatra di Thailand

Seiring dengan perkembangan zaman, semakin berkembang pula tujuan dan motivasi seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Tidak hanya sebatas hiburan melainkan meliputi kepentingan bisnis, pendidikan, pengobatan, kunjungan maupun kepentingan lain. Keadaan ini menjadikan negara di dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan serta mengembangkan kondisi pariwisata negara mereka, di mana berbagai cara terus dilakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan daya tarik dan kedatangan wisatawan asing. Begitu juga yang terjadi di kawasan ASEAN, salah satu upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kondisi pariwisata regional adalah dengan meningkatkan konektivitas antar negara anggota dan mempromosikan pariwisata secara bersama. Upaya meningkatkan konektivitas kawasan tersebut salah satunya dilakukan ASEAN dengan menerapkan kebijakan bebas visa. Kebijakan dengan memberikan pembebasan izin visa yang diterapkan secara regional bagi sesama negara anggota ASEAN yang hendak melakukan perjalanan di kawasan Asia Tenggara. Kebijakan tersebut terbukti berhasil dalam meningkatkan konektivitas kawasan, bahkan secara lebih luas meningkatkan kedatangan wisatawan. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, ASEAN ingin meningkatkan kondisi tersebut menjadi lebih luas jangkauannya kepada wisatawan non-ASEAN dengan menggunakan single visa.
 
Keberhasilan penerapan single visa yang terjadi di Uni Eropa melalui kebijakan Visa Schengen, telah menginspirasi Thailand untuk dapat menerapkan hal yang sama di kawasan Asia Tenggara. Melalui Perdana Menteri Thaksin Shinawatra pada tahun 2003 di subregional ACMECS, untuk pertama kalinya Thailand menginisiasi kebijakan single visa tersebut. Berawal dari sana, Thailand ingin memperluas pelaksanaan kebijakan single visa dalam lingkup regional. Sehingga Thailand berusaha untuk mengangkat gagasan tersebut untuk masuk menjadi bagian dalam ASEAN. Seiring dengan berjalannya waktu, single visa kemudian menjadi salah satu fokus strategi pariwisata ASEAN yang mulai di gagas melalui ATF pada tahun 2011 di Pnom Penh, Kamboja. Rencana single visa tersebut masuk ke dalam ASEAN Tourism Strategic Plann 2011-2015. Dalam penerapannya, mekanisme yang akan digunakan nantinya mengikuti mekanisme dalam sistem Visa Schengen. 

Inisiasi kebijakan single visa oleh Thailand tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan dalam hal ini terdapat kepentingan yang ingin di capai oleh Thailand dalam penerapan kebijakan. Kepentingan tersebut terbagi menjadi dua hal yang melingkupi ranah politik serta sosial-ekonomi.
Pertama adalah kepentingan politik. Dalam hal ini tujuan Thailand dapat dilihat pada lingkup domestik dan internasional. Internasional dalam konteks ini adalah kawasan regional, di mana melalui kebijakan tersebut Thailand ingin meningkatkan kondisi dan keberadaan kawasan. Hal ini dikarenakan Thailand melihat adanya kemajuan besar di kawasan lain yaitu Eropa dalam bidang pariwisata,. Melihat hal itu, Thailand ingin kemajuan yang sama turut terjadi di kawasan ASEAN. Dengan meningkatnya kondisi kawasan, Thailand mengharapkan kondisi tersebut dapat semakin meningkatkan hubungan antar negara di kawasan baik secara bilateral maupun multilateral. Seiring dengan itu, berbagai kerjasama yang terjalin di antara negara juga dapat semakin meningkat dan meluas di berbagai bidang. Sedangkan dalam lingkup domestik, Thailand ingin meningkatkan pengaruh negaranya terhadap negara lain terutama di dalam bidang pariwisatal. Pada saat yang bersamaan, Thailand ingin menunjukkan potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh negaranya. Selain itu, apabila kebijakan single visa nantinya diterapkan, Thailand berharap dapat menjadi pusat dari kawasan dengan menjadi pintu gerbang utama bagi kedatangan wisatawan asing ke ASEAN. Atau dengan kata lain, Thailand ingin menjadi negara tujuan utama para wisatawan. Hal ini dikarenakan letak geografi Thailand yang stategis di tengah kawasan yang memungkinkan negaranya menjadi pusat kedatangan wisatawan dan menjadi poros pergerakan wisatawan ke berbagai negara.

Kedua adalah kepentingan sosial-ekonomi. Pada konteksi ini tujuan Thailand adalah untuk memberikan solusi atau jawaban atas keluhan dari wisatawan asing yang merasa bahwa mengurus surat izin visa di kawasan ASEAN cukup rumit. Melalui kebijakan tersebut, Thailand berusaha memberikan kemudahan bagi mereka untuk datang dan berkunjung. Dengan kemudahan tersebut, Thailand mengharapkan bahwa hal itu dapat semakin meningkatkan kunjungan wisatawan yang banyak khususnya di dalam negaranya. Seiring dengan kedatangan jumlah wisatawan yang bertambah, pada saat yang bersamaan Thailand turut mengharapkan adanya peningkatan devisa. Artinya pemasukan terhadap negara juga dapat semakin meningkat. Sedangkan di sisi lain, Thailand mengharapkan adanya peningkatan pembangunan yang merata di berbagai wilayah. Hal ini didasarkan pada letak geografi negaranya yang strategis, yang dapat menerima kedatangan wisatawan asing baik secara langsung maupun dari berbagai negara tetangga ketika kebijakan single visa diterapkan.  

Dalam mewujudkan kepentingan tersebut Thailand menemui adanya peluang dan tantangan. Peluang pertama adalah keberadaan infrastruktur pariwisata Thailand yang mendukung. Kondisi infrastruktur dalam hal ini meliputi infrastruktur transportasi dan akomodasi. Kedua komponen yang memadai di Thailand tersebut merupakan salah satu bentuk keunggulan yang dimiliki Thailand dalam mendukung pelaksanaan kebijakan single visa. Dalam penerapannya, infrastruktur pariwisata yang memadai merupakan hal penting di dalam memberikan kemudahkan akses dan mobilitas bagi  para wisatawan, serta memberikan kenyamanan di dalam perjalanan. Peluang kedua adalah adanya dukungan dari negara lain terhadap rencana kebijakan single visa. Dukungan tersebut merupakan respon positif yang diberikan oleh negara lain kepada Thailand. Melalui dukungan tersebut menunjukkan bahwa negara lain bersedia untuk menerapkan kebijakan  di dalam kawasan ASEAN. Sehingga kemungkinan penerapan kebijakan single visa menjadi semakin besar. Peluang ketiga adalah adanya komitmen Thailand dalam membangun akses daratan di perbatasan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa Thailand tidak hanya sekedar menginisiasi, melainkan turut melakukan upaya nyata di dalam mewujudkan kebijakan single visa. Menyadari bahwa  akses daratan di perbatasan merupakan bagian yang penting di dalam mobilitas para wisatawan untuk melakukan perjalanan ke menuju ke berbagai negara, upaya yang dilakukan oleh Thailand  semakin mendukung keberadaan negaranya dalam mewujudkan penerapan single visa terkait fasilitasi kemudahan akses dan mobilitas bagi para wisatawan. 
   
Sedangkan di dalam penerapannya, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh Thailand antara             lain :

1.             Adanya kompetisi yang terjadi di antara negara ASEAN
Kompetisi tersebut muncul sebagai akibat dari usaha setiap negara untuk dapat meningkatkan kondisi pariwisata di negaranya agar  menjadi destinasi utama di kawasan ASEAN. Dalam rangka menarik perhatian banyak para wisatawan, banyak negara berlomba-lomba untuk memajukan pariwisata di dalam negara serta memberikan berbagai penawaran menarik untuk wisatawan.  Sehingga keadaan tersebut memunculkan adanya kompetitor  baru bagi Thailand khususnya di dalam mempromosikan pariwisata negara.

2.             Berkurangnya length of stay dari para wisatawam yang tinggal di Thailand
Dengan adanya single visa, destinasi atau tujuan pariwisata seseorang menjadi bertambah banyak ke berbagai negara di seluruh kawasan.  Dari sana akan semakin sedikit waktu yang dihabiskan oleh wisatawan untuk menetap di suatu negara, karena mereka akan cenderung lebih banyak melakukan mobilitas ke berbagai negara untuk dapat menikmati fasilitas dari single visa yang ditawarkan. Begitu juga dengan yang terjadi Thailand, waktu tinggal bagi para wisatawan menjadi lebih sebentar dalam melakukan kunjungan. Tantangan

3.             Berkurangnya devisa Thailand
Seiring dengan semakin berkurangnya waktu tinggal seorang wisatawan di Thailand,  akan semakin sedikit pula pengeluaran yang diperlukan oleh para wisatawan selama berada mereka di sana. Sebagai akibatnya keadaan tersebut mempengaruhi kondisi devisa Thailand yang dapat menjadi semakin berkurang karena adanya permintaan barang dan jasa di dalam sektor pariwisata yang semakin menurun.

4.             kondisi keamanan Thailand yang kurang mendukung
Kurangnya  kondisi keamanan negara yang baik, menjadikan Thailand rentan terhadap berbagai ancaman kejahatan. Longgarnya kondisi keamanan tersebut, melalui penerapan single visa dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mudah masuk melalui Thailand karena adanya akses yang lebih luas. Tanpa dapat menyeleksi berbagai ancaman yang terjadi, kondisi keamanan menjadi sangat rentan terhadap kejahatan.

5.             Adanya pemberlakuan bebas visa bagi negara non-Asean
Melalui penerapan bebas visa sebenarnya telah banyak wisatawan non-ASEAN yang dimudahkan untuk dapat masuk ke Thailand maupun negara lain di kawasan ASEAN. Apabila jumlah negara yang mendapatkan bebas visa semakin banyak, hanya dengan menggunakan bebas visa mereka sudah dapat melakukan perjalanan ke seluruh kawasan ASEAN. Sehingga dalam hal ini kondisi tersebut justru menjadikan penerapan single visa nantinya di kawasan ASEAN menjadi kurang optimal. Bahkan jika bebas visa sudah diberlakukan secara merata oleh semua negara ASEAN dengan jumlah daftar negara yang seimbang, single visa dapat menjadi tidak diperlukan. 
Dalam mencapai kepentingan Thailand menerapkan kebijakan single visa, bukanlah merupakan suatu proses yang mudah. Masih terdapat banyak tantangan yang dihadapi mulai dari kurangnya kondisi yang mendukung di dalam negara, hingga adanya ancaman yang berasal dari luar negara seperti halnya kawasan. Selain itu sudah adanya pemberlakuan bebas visa di negara-negara ASEAN menjadikan pertimbangan penting bagi pelaksanaan kebijakan. Tidak menutup kemungkinan ketika berbagai ancaman tersebut belum dapat terjawab, maka penerapan kebijakan single visa akan menjadi lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan. Bahk
an apabila seiring dengan perkembangan waktu jumlah negara yang mendapatkan fasilitas bebas visa di kawasan ASEAN semakin bertambah banyak, rencana penerapan single visa tidak akan dapat memberikan dampak yang signifikan.

Selain itu semakin lama, kebijakan bebas visa terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan keadaan tersebut dapat menjadikan kebijakan single visa tidak diperlukan kembali. Sehingga berbagai tantangan tersebut perlu diselesaikan dan diminimalisir dampaknya, karena akan sangat disayangkan apabila nantinya kebijakan tersebut dijalankan tidak akan dapat memberikan dampak yang maksimal dan berjalan dengan efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar